1. the-veiled-secret:

    Inna Lillah Wa Inna Ilayhi Rajiun. Please recite Surat Al-Fatiha for Brother Malcolm Shabazz, the grandson of Malcolm X, who was killed in Mexico on Thursday 9th May 2013.

    Innalillahi wa inna ilaihi roji’un :’(

    (via thebeautyofislam)

     


  2. Harmoni Kritik = Kritik Harmoni?

    Di negara yang demokrasi sekarang ini,masyarakat boleh bersuara apapun. Dari wong kampung sampai wong kota dan wong-wong lainnya boleh bersuara,ngomong sampai ndumel silahkan saja. Wong negara kita demokrasi. Namun,karena itulah demokrasi di negeri kita semakin pudar : Semangat demokrasi hilang karena demokrasi itu sendiri. Salah satu yang banyak dimuat baik di media sosial maupun pers mungkin berkenaan dengan kritik.

    Kritik merupakan suatu suara yang kadang memekakkan telinga,membuat pikiran gundah dan dapat menciptakan suasana yang agak gemuruh dalam hati. Betapa tidak,dengan kritik,seseorang pasti merasa “wah,saya dikritik abis-abisan nih. Pedes banget!”. Namun,kadang ada orang yang mau berlapang dada dan berkata dalam hati maupun secara nyata,”wah terima kasih atas kritiknya. Ini sangat membantu saya”. Nah,kritik ini beda macamnya.

    Namun,kadang yang dimuat dalam media apapun,sifat kritiknya bersifat menyindir dan cenderung keras. Keras disini beda dengan “keras” dalam bidang keilmuan. Banyak orang akhirnya mengecam kritik seseorang sebagai “biadab” karena penyampaian yang tidak pas dan kadang kritik tersebut bersifat nyinyir bahkan memuat kata kasar yang membuat hati seseorang semakin sakit. entah,kritik macam yang ia bangun,atau malah menghancurkan jati diri seseorang?

    Mungkin kita harus membedakan antara kritik yang mendidik dan kritik yang gak ada dasar ilmunya. Biasanya,kritik yang mendidik memuat suatu ilmu yang akhirnya menyumbangkan angin segar bagi yang menerima kritikan itu. Kritikan yang isinya beradab,ada solusinya,perbaikan yang sistemik terhadap satu pendapat atau kritik mengenai kesalahan dengan penyampaian yang bijak itulah yang akan selalu diterima oleh masyarakat. Kritik yang bijak,mendidik,membangun dan menyejukkan hati itulah yang akhirnya dapat diterima,sekalipun pendapat itu ditentang oleh si pengkritik.

    Berbeda dengan Kritik yang gak ada dasar ilmunya,terkadang isinya menyindir,berkoar,menghujat bahkan dalam agama pun terdapat cap-mencap seperti sesat,kafir,nyeleneh. Apalah itu bahasanya,tapi meskipun orang tersebut termasuk berilmu tinggi,bila tidak didasari dengan penyampaian yang baik apalagi menghujat,itu bukan mengkritik,tapi sudah termasuk menghina seseorang. Maka dari itu,yang nyeleneh biasanya adalah orang yang mengkritik kalau orang yang dikritik itu nyeleneh. Akhirnya,yang kena tulahnya dia sendiri!

    Entah,demokrasi macam apa yang kita jalani sekarang. Wong kalo kita berkaca pada zaman otoriter baheula,saya kira tak perlu kita bicarakan karena yang berlalu biar berlalu. Yang sekarang kita pikirkan adalah masa depan meskipun masa lalu itu amat penting sebagai pembelajaran. Yang kita harus pikirkan,bagaimana cara membangun Kritik yang harmoni sehingga timbul suatu keharmonian kritik yang elegan. Ya,kritik elegan yang harus dicari,bukan kritik berkoar,apalagi menyindir dan menghujat.

     


  3. Budaya ‘Ndumel’

    Di zaman yang serba canggih,ada saja sarana untuk menghubungkan satu orang atau kelompok dengan orang atau kelompok yang lain,meskipun itu berjarak jauh (kecuali berhubungan langsung dengan akhirat). Ada sarana seperti Twitter,Facebook,Google Plus,Skype dan macam-macam lagi sampai saya saja pusing untuk mengingatnya.

    Namun,seiring perkembangan zaman,berkembang suatu budaya yang jarang terjadi dalam kehidupan. Budaya ndumel. Budaya ini memang sudah lama,namun hal seperti ini membuat hati terasa risih yang membuat pikiran semakin ‘apa sih’. Dan itu berkembang di media sosial apalagi pers.


    Ada saja beberapa teman saya di Twitter dan media sosial lain (termasuk saya sendiri) sering ndumel sendiri dengan meng-update status atau semacamnya. Dalam pikiran yang menggunakan media sosial tersebut,yang penting share! Kadang mental share bisa jadi lebih membahayakan daripada memendam hal itu di dalam hati dan pikiran seseorang. Budaya ndumel itu sendiri akhirnya membuat yang melihatnya pasti berpikir “oh ini orang lagi galau” atau “apaan sih nih orang update gak jelas” atau malah “brengsek! gak usah nyindir gua bisa kali!”.

    Kadang budaya seperti ini gak baik untuk dilakukan. Kadang mental seseorang menjadi down hanya karena satu ndumelan yang akhirnya membuat orang lain pesimis. Ndumel itu sendiri efeknya akan jauh lebih membahayakan dalam pembangunan nasiona (dalam skala gede-gedeannya). Selalu saja orang ndumel terhadap sesuatu yang kecil yang dibesar-besarkan. Inilah intinya,”masalah cetek digedein”.


    Penulis pun eling kalau saat di media sosial sering ndumel gak jelas. Namun,masalah dari ndumel ini gak gede kok : hanya butuh 1 orang yang mau diajak untuk mendengarkan curhatnya dan berkeluh kesah. Orang lain kadang men-share  ndumelannya melalui media sosial karena kesepian. Kesepian membuat orang semakin bingung mau dikemanakan keluh kesahnya dibagikan. Ya,cuma media sosial aja yang mau ngedenge. Masalahnya,sasaran yang mau mendengarkannya kepada siapa? Itulah akhirnya timbul ‘Budaya Ndumel’. Remeh sih,tapi dampaknya sistemik.

    Saya pun dapat kesimpulan yang gak harus baik banget : Karena media sosial sifatnya menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh,timbul suatu gap yang agak lebar terhadap penggunanya. Kadang,media sosial menjadikan manusia menjadi penyendiri dan akhirnya menjadi sendiri. Media sosial akhirnya jadi sasaran ndumel,meskipun hidup,tapi sebenarnya tak hidup. Bukan dunia nyata,tapi hanya dunia maya.

     


  4. pandangan manusia bisa jernih,tapi juga bisa bias. yang penting fokus dan pandangan luas…
     


  5. Kadang senyum itu terbagi menjadi tiga : senyum prihatin,senyum bahagia dan senyum jahat. atau bahkan senyum palsu pun ada…
     


  6. lagi mengenang lagu-lagu Letto. ternyata lagu ini asik,maknanya sufistik. dengerin sendiri deh :)

     


  7. Kuntowijoyo berkata : “psikologi humanistik dan transedental masih perlu mendapatkan juru bicara yang lebih banyak”. Apakah kalian yang akan menjadi juru bicara tersebut?
     


  8. Kebangkitan Islam? Gua yakin akan hal itu. Hanya dimana kita akan mengambil tempat. Tempat gua ya disini :)
     


  9. Indonesia itu kurang menangkap anginnya sendiri. selalu mengikuti tangkapan angin negara lain itu gak salah,tapi kalo ngekor itu salah. Kapan mandirinya?
     

  10. kalo gak salah ada nih di buku Sejarah Jakarta 400 tahun *ya iyalah tulisan langsung Susan Blackburn (atau dulu namanya Susan Abeyasekere) :)

    (Source: kuntawiaji)