Di negara yang demokrasi sekarang ini,masyarakat boleh bersuara apapun. Dari wong kampung sampai wong kota dan wong-wong lainnya boleh bersuara,ngomong sampai ndumel silahkan saja. Wong negara kita demokrasi. Namun,karena itulah demokrasi di negeri kita semakin pudar : Semangat demokrasi hilang karena demokrasi itu sendiri. Salah satu yang banyak dimuat baik di media sosial maupun pers mungkin berkenaan dengan kritik.
Kritik merupakan suatu suara yang kadang memekakkan telinga,membuat pikiran gundah dan dapat menciptakan suasana yang agak gemuruh dalam hati. Betapa tidak,dengan kritik,seseorang pasti merasa “wah,saya dikritik abis-abisan nih. Pedes banget!”. Namun,kadang ada orang yang mau berlapang dada dan berkata dalam hati maupun secara nyata,”wah terima kasih atas kritiknya. Ini sangat membantu saya”. Nah,kritik ini beda macamnya.
Namun,kadang yang dimuat dalam media apapun,sifat kritiknya bersifat menyindir dan cenderung keras. Keras disini beda dengan “keras” dalam bidang keilmuan. Banyak orang akhirnya mengecam kritik seseorang sebagai “biadab” karena penyampaian yang tidak pas dan kadang kritik tersebut bersifat nyinyir bahkan memuat kata kasar yang membuat hati seseorang semakin sakit. entah,kritik macam yang ia bangun,atau malah menghancurkan jati diri seseorang?
Mungkin kita harus membedakan antara kritik yang mendidik dan kritik yang gak ada dasar ilmunya. Biasanya,kritik yang mendidik memuat suatu ilmu yang akhirnya menyumbangkan angin segar bagi yang menerima kritikan itu. Kritikan yang isinya beradab,ada solusinya,perbaikan yang sistemik terhadap satu pendapat atau kritik mengenai kesalahan dengan penyampaian yang bijak itulah yang akan selalu diterima oleh masyarakat. Kritik yang bijak,mendidik,membangun dan menyejukkan hati itulah yang akhirnya dapat diterima,sekalipun pendapat itu ditentang oleh si pengkritik.
Berbeda dengan Kritik yang gak ada dasar ilmunya,terkadang isinya menyindir,berkoar,menghujat bahkan dalam agama pun terdapat cap-mencap seperti sesat,kafir,nyeleneh. Apalah itu bahasanya,tapi meskipun orang tersebut termasuk berilmu tinggi,bila tidak didasari dengan penyampaian yang baik apalagi menghujat,itu bukan mengkritik,tapi sudah termasuk menghina seseorang. Maka dari itu,yang nyeleneh biasanya adalah orang yang mengkritik kalau orang yang dikritik itu nyeleneh. Akhirnya,yang kena tulahnya dia sendiri!
Entah,demokrasi macam apa yang kita jalani sekarang. Wong kalo kita berkaca pada zaman otoriter baheula,saya kira tak perlu kita bicarakan karena yang berlalu biar berlalu. Yang sekarang kita pikirkan adalah masa depan meskipun masa lalu itu amat penting sebagai pembelajaran. Yang kita harus pikirkan,bagaimana cara membangun Kritik yang harmoni sehingga timbul suatu keharmonian kritik yang elegan. Ya,kritik elegan yang harus dicari,bukan kritik berkoar,apalagi menyindir dan menghujat.